Rabu, 02 Mei 2018

Peningkatan Transaksi Kartu Kredit Didorong Jelang Lebaran





Transaksi kartu kredit biasanya naik saat Lebaran, tengah tahun, dan akhir tahun.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri perbankan mendorong peningkatan volume transaksi kartu kredit pada kuartal II 2018 bersamaan dengan momen Ramadhan dan Lebaran. Pertumbuhan volume transaksi kartu kredit pada Ramadhan dan Lebaran diharapkan lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan biasa.

Direktur Consumer Banking Bank BRI, Handayani, mengatakan, kredit konsumer di BRI masih didominasi oleh kredit berbasis payroll, disusul Kredit Kepemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), dan kartu kredit. Porsi volume transaksi kartu kredit terhadap total kredit diakui masih kecil.

Saat ini, jumlah pemegang kartu kredit BRI sekitar 1,3 juta nasabah. Tahun lalu, volume transaksi kartu kredit BRI mencapai Rp 7 triliun. Handayani berharap tahun ini volume transaksi kartu kredit bisa tumbuh 30 persen (yoy). Dari Januari sampai April 2018, size volume kartu kredit BRI sudah mencapai Rp 3 triliun.

"Kuartal dua mudah-mudahan dengan adanya Lebaran ini kami dorong banyak di transaksi e-commerce. Sampai Juni kami harapkan bisa di angka Rp 5 triliun sampai Rp 6 triliun," jelas Handayani kepada wartawan di Jakarta, pekan lalu.

Menurutnya, tantangannya justru momen terbaik menjelang puasa dan Lebaran itu BRI berkompetisi dengan issuer bank lain. Sehingga BRI harus menciptakan program-program menarik. Sejumlah promo telah dipersiapkan untuk mendorong peningkatan transaksi kartu kredit. Antara lain bekerja sama dengan agen perjalanan (travel agent), maskapai penerbangan, maupun restoran.

"Kami harapkan pertumbuhan di kuartal kedua bisa 20-30 persen year on year," ungkapnya.

Secara terpisah, Direktur Consumer Banking CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, biasanya kenaikan transaksi kartu kredit pada kuartal pertama tidak akan terlalu besar. Sebab, transaksi kartu kredit tergantung pada musiman misalnya momen Ramadhan, pertengahan tahun, juga akhir tahun bersamaan dengan libur sekolah. Kenaikan transaksi pada kuartal pertama biasanya hanya 1-2 persen.

"Persentase di CIMB Niaga di kuartal I baru naik 2 persen sampai 2,5 persen. Tapi diharapkan Ramadhan transaksi mulai tinggi. Kalau ramadhan konsumsi belanja grosir paling tinggi," jelas Lani di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lani menambahkan, volume transaksi kartu kredit bisa naik 15-20 persen sampai akhir tahun. Saat ini jumlah pemegang kartu kredit CJMB Niaga sebanyak 2,7 juta nasabah. Jumlah pemegang kartu juga diharapkan bisa naik 15-20 persen. Sampai akhir tahun diharapkan bertambah 100 pemegang kartu baru.

Lani menyebutkan, CIMB Niaga menyiapkan banyak strategi untuk mendorong transaksi pada bulan Ramadhan. Antara lain, diskon di supermarket, hotel, kemudian cicilan nol persen. Diharapkan volume transaksi pada Ramadhan tahun ini meningkat sekitar 15-20 persen.

"Ramadhan pertumbuhannya jauh lebih tinggi. Biasanya dobel digit. Pengalaman kami peningkatan biasanya 15-18 persen dibandingkan bulan biasa," ungkap Lani.

Volume transaksi kartu kredit CIMB Niaga sampai Maret 2018 tercatat sekitar Rp 4 triliun. Komposisi kredit konsumer paling besar ada pada KPR, disusul kartu kredit. Porsi kartu kredit mencapai 12 persen dari total kredit konsumer CIMB Niaga.

INFO PENTING…..!!!!! (GRATIS KONSULTASI)
APABILA ANDA MENGALAMI KENDALA DAN BERMASALAH DENGAN PERBANKAN KHUSUSNYA TAGIHAN KARTU KREDIT DAN KTA……..
SEGERA HUBUNGI !!!!!!!

 PENGACARA MILINEAL / Konsultan Hukum Milineal

1. Andy Kurniawan,SH (Managing Direktur Mediasi Pratama)

Hallo Pengacara Milineal: 0857 3311 1988

SMS / WA : 0857 3311 1988        


BI Dapat 1.566 Aduan Kartu Kredit, Kasus Gestun Terbanyak


BI Dapat 1.566 Aduan Kartu Kredit, Kasus Gestun Terbanyak
Foto: Aristya Rahadian Krisabella
Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang 2017, Bank Indonesia (BI) menerima pengaduan dan permintaan informasi di bidang sistem pembayaran sebanyak 16.810. Sebanyak 2.210 berupa pengaduan dan sebanyak 14.600 merupakan permintaan informasi.

Pengaduan konsumen pada 2017 meningkat 13,33% dari tahun 2016 atau dari 1.950 menjadi 2.210. Sedangkan untuk permintaan informasi, pada periode yang sama meningkat sebanyak 2.669 (22,37%) yaitu dari 11.931 menjadi 14.600.

"Pengaduan konsumen sistem pembayran didominasi oleh instrumen kartu kredit sebanyak 1.566 (70,86%) dengan pengaduan terbanyak disebabkan oleh adanya praktik gesek tunai/gestun, surcharge dan double swipe sebanyak 393," demikian laporan BI bidang Edukasi Konsumen seperti dikutip Rabu (2/5/2018).


Adapun laporan atau aduan soal etika penagihan oleh bank sebanyak 338 aduan dan produk yang digunakan oleh orang lain sebanyak 83 pengaduan.

Sementara, permintaan informasi terkait sistem pembayaran ke BI pada 2017 didominasi penyediaan atau penggunaan uang sebanyak 9.233 (64,24% dan disusul soal kewajiban penggunaan rupiah di wilayah NKRI.

"Seluruh pengaduan konsumen yang disampaikan kepada Bank Indonesia telah ditindaklanjuti dengan pelaksanaan edukasi, konsultasi dan fasilitasi," jelas BI.

Adapun rincian sebagai berikut: 
  • Edukasi dengan memberikan pemahaman kepada konsumen mengenai jasa SP; 

  • Konsultasi dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat dan penyelenggara apabila terdapat permasalahan dalam penggunaan jasa SP;
  • Fasilitasi dengan mempertemukan antara Konsumen dengan Penyelenggara guna menyelesaikan sengketa yang mengandung unsur keperdataan. 


INFO PENTING…..!!!!! (GRATIS KONSULTASI)
APABILA ANDA MENGALAMI KENDALA DAN BERMASALAH DENGAN PERBANKAN KHUSUSNYA TAGIHAN KARTU KREDIT DAN KTA……..
SEGERA HUBUNGI !!!!!!!

1. Andy Kurniawan,SH (Managing Direktur Mediasi Pratama)

telp : 0857 3311 1988

SMS / WA : 0857 3311 1988        


2. Jeanne (Manager Konsultan)

Telp : 0822 4437 3534

Gesek tunai (GESTUN) Kartu Kredit, apa kerugiannya???


 
CARI TEMPAT GESTUN (GESEK TUNAI)?????????!!!!!!!!!!!

Sudah Ribuan orang terjebak atau terlilit kartu kredit berawal dari salah pemakaian, salah satunya gara-gara transaksi GESTUN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

1. Apakah anda ingin jadi korban GESTUN selanjutnya????????!!!!!!!
2. Apakah anda siap-siap menelantarkan anak istri anda gara-gara GESTUN????!!!!!
3. Apakah anda siap-siap STRES gara-gara limit kartu kredit anda habis akibat GESTUN??????!!!!!!!
4. Apakah gaji anda habis buat bayar tagihan kartu kredit, gara-gara GFESTUN??????!!!!!!!!
5. Apakah anda dikejar-kejar Debt Collector, gara-gara GESTUN???????!!!!!!!!!
6. GESTUN + KARTU KREDIT = MISKIN
7. GESTUN + KARTU KREDIT = BANGKRUT
8. GESTUN + KARTU KREDIT = DZOLIM
9. GESTUN + KARTU KREDIT = BENCANA KELUARGA
10. GESTUN + KARTU KREDIT = NERAKA!!!!!
 
APAKAH ANDA MAU KEJADIAN DIATAS MENIMPA ANDA?????????!!!!!!!!!!!


Suara.com - Bagi sebagian pemilik kartu kreditgesek tunai kartu kredit adalah cara tercepat ketika kepepet keuangan. Benarkah langkah tersebut?
Memang, kartu kredit memiliki fasilitas yang bisa digunakan untuk gesek tunai kartu kredit di sejumlah merchant. Biasanya ada mesin EDC (Electronic Data Capture) dari Bank yang berada dalam jaringan kartu kredit Bank Penerbit.
Sebagai contoh, mesin EDC Bank BCA yang menerima kartu kredit Mastercard dan Visa kartu kredit BCA. Selain itu, meski kartu kreditmu bukan dari Bank BCA, tapi berada dalam jaringan Mastercard, merchant tersebut tetap bisa memakainya untuk menyediakan jasa gesek tunai.
Dengan melakukan transaksi di merchant tersebut seolah-olah Anda membeli sesuatu. Padahal, Anda mengambil uang tunai dari merchant tersebut. Lalu, apakah gesek tunai tersebut dibenarkan? Dan apa saja kerugiannya?
Sebenarnya Bank Indonesia menghimbau pemilik kartu kredit untuk menghindari gesek tunai kartu kredit. Alasannya, data transaksi gesek tunai rawan disalahgunakan oleh merchant sehingga berpotensi menimbulkan kerugian konsumen.  
Mengapa gesek tunai kartu kredit tetap popular
Pertanyaannya, mengapa masih banyak masyarakat menggunakan fasilitas gesek tunai kartu kredit meski rawan penyalahgunaan data transaksi? Berikut ini rangkuman dari situs perbandingan dan pengajuan kartu kredit dan pinjaman HaloMoney.co.id
Tak ada limit
Dengan gesek tunai Anda bisa mendapatkan dana tanpa batasan. Biasanya, jika Anda menarik dana dari ATM Anda hanya bisa menarik dana hanya sekitar 40% hingga 60% dari limit kartu kreditmu. Inilah alasan mengapa kebanyakan orang suka gesek tunai kartu kredit.
Dengan fasilitas seperti sayangnya banyak pemilik kartu kredit lupa menjaga keseimbangan keuangannya sehingga jadi boros. Akibatnya gesek tunai menggiring pemilik kartu kredit terjerat hutang kartu kredit.

Bunga
Hal lain yang menggiurkan buat kebanyakan orang yang suka gesek tunai kartu kredit yaitu bunga yang dikenakan lewat gesek tunai kartu kredit lebih rendah lho bahkan dibanding tarik tunai lewat ATM karena hal ini dianggap transaksi ritel. 
Saat ini bunga transaksi ritel dikenakan 2,25% per bulan, dan sebagian bank menerapkan bunga 2,95% untuk tarik tunai di ATM, dan sebagian bank menerapkan bunga tarik tunai di ATM sama dengan transaksi ritel. Selain bunga, ada biaya lain jika Anda tarik tunai di ATM. Cermati ketentuan yang berlaku di kartu kreditmu. 
Tagihan
Lalu, hal menggiurkan berikutnya adalah mengenai tagihan Moneysavers. Gesek tunai kartu kredit memotong biaya penagihan langsung saat Anda menarik uang tunai. Sebagai contoh Anda menarik tunai dengan gestun sebanyak Rp2 juta rupiah, maka yang akan dapatkan adalah Rp1.940.000 karena sudah dipotong biaya penarikan sebesar 3 persen sebagai biaya penarikan.
Biaya penarikan tergolong rendah
Fator lainnya adalah biaya penarikan gesek tunai kartu kredit tergolong rendah, dibandingkan dengan penarikan di ATM yang mengharuskan nasabah membayar 4 persen dari nilai transaksi atau minimal Rp50.000. Gesek tunai kartu kredit hanya meminta nasabah membayar hanya 2-3 persen untuk biaya penarikan alias lebih murah.
Faktor inilah yang membuat bank dan regulator keberatan dengan maraknya gesek tunai kartu kredit karena bank berpotensi kehilangan pendapatan. Dan dari sisi edukasi keuangan, gesek tunai kartu kredit menggiring konsumen untuk konsumtif dan salah memperlakukan kartu kredit. 
Kerugian gesek tunai kartu kredit
Buat Anda yang selama ini sering menggunakan fasilitas gesek tunai kartu kredit, ada beberapa hal yang harus Anda waspadai. Apa saja kerugian gesek tunai kartu kredit yang bisa menimpa Anda?
Risiko kredit macet
Hal pertama yang perlu diwaspadai atau kerugian dari gesek tunai kartu kredit adalah menimbulkan masalah kredit macet. Bisa Anda bayangkan, Anda bisa menggesek tunai kartu kredit tanpa batas atau limit, sementara Anda tidak memiliki dana untuk segera membayarnya secara penuh.
Inilah yang akan menimbulkan risiko kredit macet. Yang lebih membahayakan ketika tagihan dari gesek tunai kartu kredit tersebut, Anda hanya membayar minimal, sehingga dana yang telah Anda manfaatkan terus berbunga dan akhirnya nasabah akan dililit hutang tanpa akhir. Menyeramkan, bukan?
Risiko tinggi masalah pencucian uang (money laundring)
Selain menyebabkan risiko kredit macet, penggunaan gesek tunai kartu kredit bisa menimbulkan masalah pencucian uang. Bisa saja gesek tunai kartu kredit ini dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyalurkan dana hasil tindak pidana kepada nasabah yang gesek tunai. Tidak mau kan Anda terkena getah tindak pidana mereka? Maka dari itu, lebih baik hindari saja.
Penyalahgunaan manfaat utama kartu kredit
Cobalah Anda ingat-ingat lagi, apa tujuan Anda memiliki kartu kredit? Pada hakikatnya kartu kredit merupakan merupakan alat untuk memudahkan pembayaran lho, bukan kartu untuk berhutang. Karena itulah dengan memanfaatkannya untuk gesek tunai kartu kredit maka sebenarnya pemilik kartu kredit telah menyalahgunakannya hanya karena ingin menarik uang tunai dengan mudah.
Itulah beberapa hal penting seputar gesek tunai kartu kredit. Ingatlah hakikat manfaat utama kartu kredit sebagai alat pembayaran bukan alat berhutang. Untuk lebih memahami mengenai kartu kredit dan membandingkan produk keuangan.

INFO PENTING…..!!!!! (GRATIS KONSULTASI)
APABILA ANDA MENGALAMI KENDALA DAN BERMASALAH DENGAN PERBANKAN KHUSUSNYA TAGIHAN KARTU KREDIT DAN KTA……..
SEGERA HUBUNGI !!!!!!!

1. Andy Kurniawan,SH (Managing Direktur Mediasi Pratama)

telp : 0857 3311 1988

SMS / WA : 0857 3311 1988        


2. Jeanne (Manager Konsultan)

Telp : 0822 4437 3534


Laporan Keuangan Bukopin "Tersandung" Kasus Kartu Kredit


Kamis, 3 Mei 2018 | 07:00 WIB
Bank Bukopin
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Bukopin Tbk merevisi laporan keuangan 2016. Laporan keuangan revisi tersebut tepatnya muncul pada 25 April 2018.
Sejumlah variabel dalam laporan juga berubah signifikan. Misalnya, laba tahun 2016 sebelumnya tercatat sebesar Rp 1,08 triliun. Namun, dalam laporan keuangan perusahaan tahun 2017, laba perusahaan dicatatkan sebesar Rp 183,53 miliar.
Bukan hanya variabel laba, perubahan yang cukup signifikan juga terjadi pada total pendapatan bunga dan syariah.
Mengutip Kontan.co.id, Kamis (3/5/2018), manajemen Bukopin mengungkapkan bahwa perubahan tersebut dipicu adanya pencatatan tak wajar alias abnormal dari sisi pendapatan bisnis kartu kredit.
Direktur Keuangan Bukopin Adhi Brahmantya menjelaskan, abnormalitas tersebut pertama kali ditemukan oleh perseroan pada Juli 2017. Singkatnya, data penerimaan pendapatan dari kartu kredit di Bank Bukopin berbeda dengan kenyataanya.
Adhi menerangkan, tidak hanya pada kurun waktu Januari hingga Juli 2017 saja pencatatan menjadi keliru, melainkan dalam kurun waktu lima tahun sebelumnya. Ada sedikitnya 100.000 kartu kredit yang pencatatannya keliru.
Direktur Bukopin Rivan A. Purwanto menambahkan, selama kurun waktu tersebut perseroan tetap memperoleh pendapatan dari bisnis kartu kredit, padahal kenyataannya tidak.
"Di salah satu parameter itu masih menghasilkan laba, masih bunga, padahal macet, tapi dibilang lancar. Melihat kondisi ini kami tidak bisa melakukan pembiaran," kata Rivan dalam pernyataannya, Rabu (2/5/2018).
Melihat ketidakcocokan data tersebut, pihak Bukopin mengaku langsung melaporkan kepada kantor akuntan publik (KAP) bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Setelah itu, perseroan memutuskan untuk melakukan restated alias penyampaian ulang laporan keuangan 2016 hasil temuan internal perseroan.
Apabila ditelisik, pendapatan provisi dan komisi yang terbesar di Bukopin salah satunya bersumber dari pendapatan kartu kredit. Pendapatan ini turun dari Rp 1,06 triliun menjadi Rp 317,88 miliar dalam laporan keuangan tahun 2016 yang direvisi.
"Ini yang tidak enak, akhirnya pendapatan yang kami terima Januari sampai Juni 2018 kami revisi menjadi tidak diterima. Padahal pendapatan di kartu (kredit) lumayan," ujar Rivan.
Manajemen Bukopin menjelaskan, pihaknya tidak secara langsung pada pertengahan 2017 melakukan penyampaian ulang, lantaran audit laporan keuangan tersebut baru selesai pada Januari 2018.
Adhi menambahkan, untuk menutupi kerugian dari abnormalitas tersebut, modal perseroan pun tergerus. Lihat saja, pada laporan keuangan 2016 sebelum revisi, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio(CAR) perseroan berada di batas aman 15,03 persen, namun setelah revisi CAR tersebut anjlok menjadi 11,62 persen.
Tidak berhenti di situ, CAR bank bersandi BBKP ini terus menurun pada akhir 2017 hingga menjadi 10,52 persen, meski sedikit naik di kuartal I 2018 menjadi 11,09 persen.
Agar terus dapat menggenjot ekspansi, Bukopin akan melakukan sejumlah langkah untuk menambah modal perseroan. Adhi menyebut, setidaknya sampai akhir tahun ini, CAR Bukopin akan diupayakan agar dapat bertengger di level 14 persen.
Salah satu langkahnya, dengan melakukan rights issue lewat penerbitan saham baru sebesar 30 persen pada Juni 2018. Perseroan juga akan divestasi 40 persen saham anak usaha perseroan yakni PT Bank Syariah Bukopin (BSB). Target dana yang bisa dihimpun dari rights issue sekitar Rp 2 triliun, sementara untuk divestasi BSB sebesar Rp 400 miliar.

INFO PENTING…..!!!!! (GRATIS KONSULTASI)
APABILA ANDA MENGALAMI KENDALA DAN BERMASALAH DENGAN PERBANKAN KHUSUSNYA TAGIHAN KARTU KREDIT DAN KTA……..

SEGERA HUBUNGI !!!!!!


Andy Kurniawan,SH (Managing Direktur Mediasi Pratama)

telp  / WA : 0857 3311 1988    


                        2. Jeanne (Manager Konsultan)

                                                            Telp  / WA : 0822 4437 3534


Rabu, 18 April 2018

Awas Pembobolan Kartu Kredit!!!!!

Cerita Korban Bobol Kartu Kredit yang Terima Tagihan hingga Rp 55 Juta

Rabu, 18 April 2018 | 08:33 WIB
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com - Jaringan pembobol kartu kredit ditangkap pada Minggu (15/4/2018).
Berbekal data nasabah bank yang mereka beli dari sebuah situs, para pembobol dapat menggunakan kartu kredit nasabah untuk bertransaksi jual beli hingga tarik tunai uang.
Mereka dengan leluasa menggunakan kartu kredit yang tagihannya dikirimkan kepada nasabah resmi.
Seorang nasabah yang jadi korban, D, bercerita bahwa ia menerima tagihan kartu kredit hingga Rp 55 juta dalam kurun waktu satu bulan.

Kecurigaan D bertambah karena biasanya, kalaupun ia menggunakan kartu kredit untuk bertransaksi, ia akan menerima pemberitahuan melalui surat elektronik.
"Saya sudah minta bank atur agar setiap saya transaksi, sistem billing-nya melalui email. Saya tidak pernah mendapatkan email tagihan akhir-akhir ini," kata dia.

D mengatakan, dalam kurun waktu sebulan, ia tak pernah menggunakan kartu kreditnya. Ia pun heran mengapa ada tagihan yang dialamatkan kepadanya.
"Karena jarang pakai kartu kredit, saya juga enggak tahu waktu itu kartu kredit saya masih bisa digunakan tidak," ujar D.
Dengan berbagai kecurigaan tersebut, D melaporkan hal ini kepada pihak bank. Sesampainya di bank, ia terkejut saat ditunjukkan daftar tagihannya.
"Saya ditunjukkan oleh petugas kalau nilai transaksi saya sudah Rp 55 juta. Saya enggak pernah pakai padahal," kata dia.
Setelah ditelusuri, ternyata ada seseorang yang mengaku sebagai D telah mengganti kartu kredit meski masih atas nama D dengan dalih kartu rusak melalui telepon. Namun, alamat pengiriman kartu tak sesuai dengan alamat asli D.
"Bahkan kata petugas, pembobol itu menaikkan limit kartu kredit saya, makanya bisa transaksi banyak," ujar dia.
Beruntung, pihak bank tak meminta D membayar tagihan itu dan segera memblokir kartu kredit D untuk segera diperbaiki.

Adapun jaringan pembobol kartu kredit ini menjalankan aksinya dengan sejumlah modus. Selain membobol kartu kredit korban seperti yang dialami D, pelaku menggunakan modus menelepon nasabah.
Mereka biasanya menginformasikan perbaikan kartu kredit, meminta kode ATP kartu, dan tanggal kedaluwarsa untuk dapat menguasai kartu.
"Kalau saya kebetulan tidak dihubungi pembobol. Jadi yang saya alami yang modus pembobol menelpon ke bank untuk ganti kartu," ujar D.

INFO PENTING…..!!!!! (GRATIS KONSULTASI)
APABILA ANDA MENGALAMI KENDALA DAN BERMASALAH DENGAN PERBANKAN KHUSUSNYA TAGIHAN KARTU KREDIT DAN KTA……..

SEGERA HUBUNGI !!!!!!


Andy Kurniawan,SH (Managing Direktur Mediasi Pratama)

telp  / WA : 0857 3311 1988    


                        2. Jeanne (Manager Konsultan)

                                                            Telp  / WA : 0822 4437 3534